Adasedikit penjelasan tentang hubungan Tuhan Yesus dengan ibu-Nya dan sikap-Nya terhadap kehidupan sosial (bandingkan Matius 11:19). Mujizat pengubahan air menjadi wine/ anggur dicatat sebagai mujizat pertama-Nya. Tanda pertama dapat dikatakan menyediakan pentas bagi yang berikutnya. DalamMatius 28:19-20, Tuhan Yesus menyuruh mereka pergi, namun di Kisah rasul 1:4 Tuhan Yesus melarang mereka untuk meninggalkan Yerusalem, mengapa? Jawabannya yaitu karena mereka belum dibaptis Roh Kudus dan dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Ada beberapa dampak Pentakosta bagi murid Tuhan Yesus, yaitu: Keberanian (Kisah rasul 2:14-15) 21 Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, v dan ibu w Yesus ada di situ; 2:2 Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. 2:3 Ketika mereka kekurangan anggur 1 , ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur 2 ." 2:4 Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, x ibu? y Saat-Ku z belum tiba." MenurutInjil Yohanes, peristiwa Yesus mengubah air menjadi anggur dalam pesta pernikahan di Kana, merupakan mukjizat pertamanya. Namun, selama ratusan tahun para peziarah diyakinkan bahwa Kana YESUSMENGUBAH AIR MENJADI ANGGUR Ini hari ketiga sejak Natanael menjadi salah satu murid Yesus yang pertama. Yesus dan beberapa muridnya pergi ke utara, ke wilayah Galilea, daerah asal mereka. Mereka diundang ke pesta pernikahan di Kana, kampung halaman Natanael. Kana terletak di daerah perbukitan, tidak jauh dari Nazaret tempat Yesus dibesarkan. Wu9RqNP. Komik Alkitab TUHAN YESUS MENGUBAH AIR MENJADI ANGGUR Sumber Alkitab Perjanjian Baru Kitab Yohanes pasal 2 ayat 1 sampai 11 Pada waktu itu di kota Kana, propinsi Galilea, Ada pesta perkawinan Tuhan Yesus, ibu-Nya dan murid-murid-Nya diundang ke pesta perkawinan itu Ibu Maria mendengar bahwa para pelayan sedang kekurangan minuman anggur Minuman anggur habis, padahal masih ada tamunya Ibu Maria ingin agar Tuhan Yesus melakukan sesuatu Ibu Maria menyuruh para pelayan untuk menuruti apa yang akan dikatakan Tuhan Yesus Tuhan Yesus menyuruh pelayan itu agar mengisi penuh tempayan dengan air Setelah itu, Tuhan Yesus menyuruh pelayan itu mencedok kembali air yang dituang tadi Air biasa itu berubah menjadi ... Air minuman anggur yang enak Pelayan itu memberikannya kepada pemimpin pesta untuk dicicipi rasanya Pemimpin pesta berkata kepada mempelai pria bahwa ini adalah anggur paling enak Tuhan Yesus membuat mujizat yang pertama. Tuhan Yesus menyatakan kemuliaan-Nya. Semua murid-Nya percaya kepada Tuhan Yesus Ayat Hafalan Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup Matius 16 16 “Jika Dia Dapat Mengubah Air Menjadi Anggur … ,” Liahona, Januari 2023. Gambarbuli-buli dengan air dan anggur Yohanes adalah satu-satunya penulis Injil yang menceritakan Juruselamat mengubah air menjadi anggur lihat Yohanes 21–11. Dia bahkan memiliki perasaan yang cukup kuat mengenai pengalaman itu untuk memberi tahu kita bahwa itu adalah “sebagai yang pertama dari tanda-tanda” Juruselamat Yohanes 211. Secara budaya, konsekuensi kehabisan anggur bisa merusak status sosial mereka yang terlibat. 1 Dan sementara saya tidak percaya mukjizat harus dramatis untuk mengubah hidup, saya bertanya-tanya mengapa Yohanes merasa mukjizat ini begitu penting di antara begitu banyak yang dramatis dan mengubah kehidupan. Mengapa Mukjizat? Mengapa mukjizat begitu penting di sepanjang pemberian pelayanan Juruselamat? Tentunya itu sebagian karena belas kasihan-Nya bagi mereka yang membutuhkan lihat Markus 141. Selain itu, mukjizat merupakan bukti penting akan kuasa dan wewenang ilahi-Nya lihat Markus 25, 10–11. Peristiwa-peristiwa yang bersifat mukjizat juga dapat memperkuat iman dan mendatangkan perhatian pada pesan-Nya lihat Yohanes 211; 62. Kemudian seseorang menunjukkan kepada saya bahwa mukjizat Juruselamat tidak hanya membawa orang untuk mendengarkan pesannya; itu membantu mengajarkan pesan Ketika saya bertanya kepada diri sendiri apa yang dapat saya pelajari mengenai Yesus Kristus dan misi ilahi-Nya dari mengubah air menjadi anggur, saya mulai melihat hal-hal baru. Berikut adalah tiga pelajaran yang saya pelajari dari mukjizat di Kana mengenai Juruselamat dan kuasa-Nya untuk menyelamatkan. 1. “Saat-Ku belum tiba” Ketika Maria meminta bantuan Yesus, Dia menanggapi, “Saat-Ku belum tiba” Yohanes 24. Tanpa perincian lebih lanjut, tidaklah jelas dari catatan Yohanes apa yang tepatnya Maria harapkan atau apa yang Yesus maksudkan dengan jawaban-Nya bahwa saat-Nya belum tiba. Saya segera memperhatikan bahwa ungkapan ini penting Adalah mungkin bahwa Yesus merujuk pada beberapa peristiwa yang sudah dekat di masa datang, seperti awal pemberian pelayanan umum-Nya. Pada saat yang sama, ungkapan tersebut memiliki gaung yang menggema di seluruh catatan Yohanes, sering mengarah pada mukjizat utama kurban pendamaian-Nya lihat Yohanes 421–23; 525–29; 730; 820. Akhirnya, ungkapan itu terulang kembali di akhir pemberian pelayanan fana-Nya, ketika “Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa” Yohanes 131, penekanan ditambahkan; lihat juga Yohanes 1223, 27; 1632. Dan sebelum pergi ke Getsemani, Dia berdoa, “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau” Yohanes 171, penekanan ditambahkan. Melihat Yohanes mengulangi ungkapan ini di sepanjang catatannya membantu saya melihat yang akhir dari yang awal. Pertama, Yesus mengubah air menjadi anggur untuk memuaskan rasa haus jasmani. Kemudian, pada akhirnya, Dia menggunakan anggur sakramen untuk melambangkan darah pendamaian-Nya, yang memungkinkan kehidupan kekal dan menyebabkan mereka yang percaya kepada-Nya untuk tidak pernah haus lagi lihat Yohanes 413–16; 635–58; 3 Nefi 208. 2. “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” Setelah meminta bantuan Yesus, Maria memberi tahu para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” Yohanes 25. Ada sebuah pelajaran dalam pernyataan ini dan dalam kesamaan yang menarik antara kisah ini dan kisah Yusuf di Mesir. “Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir Pergilah kepada Yusuf; perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu” Kejadian 4155, penekanan ditambahkan. Maria mungkin tidak berniat membuat hubungan ini, dan mungkin Yohanes juga tidak. Tetapi sewaktu saya memperhatikan kesamaannya, dua gagasan muncul di benak. Pertama, saya melihat cara lain Yusuf dan tokoh-tokoh lain dari Perjanjian Lama menggambarkan tentang Yesus Kristus dan misi-Nya. Tetapi, yang lebih penting, kisah tentang Mesir dan Kana mengingatkan saya bahwa tidak saja Yesus Kristus dapat menyelamatkan kita dari dosa dan kematian melalui Pendamaian-Nya—yang kemudian Dia lambangkan dengan roti dan anggur—namun Dia juga dapat menyelamatkan kita dari tantangan-tantangan jasmani, sosial, dan lainnya. Ketika orang-orang kehabisan roti, Firaun menyuruh mereka untuk melakukan apa pun yang Yusuf katakan. Mereka melakukannya dan diberi roti dan diselamatkan dari penderitaan jasmani. Ketika para pelayan kehabisan anggur, Maria memberi tahu mereka untuk melakukan apa pun yang Yesus firmankan. Mereka melakukannya dan diberi anggur, dan mereka yang terlibat diselamatkan dari kegagalan melakukan kewajiban mereka. GambarYesus bersama pria dan anak Jika kita bersedia melakukan apa pun yang Yesus firmankan, Dia dapat melakukan mukjizat dalam kehidupan kita. Balm of Gilead [Balsam di Gilead], oleh Annie Henrie Nader, dilarang mengopi Jika kita bersedia melakukan apa pun yang Yesus firmankan, Dia dapat melakukan yang sama bagi kita dan melakukan mukjizat dalam kehidupan kita lihat Ibrani 1035–36. Diselamatkan adalah yang terbesar dari segala mukjizat-Nya, dan itu memerlukan kepatuhan di pihak kita lihat Ajaran dan Perjanjian 147; Pasal-Pasal Kepercayaan 13. 3. “Dan mereka pun mengisinya sampai penuh” Juruselamat mengarahkan para pelayan untuk mengisi enam tempayan dengan air. “Dan mereka pun mengisinya sampai penuh” Yohanes 26–7. Sementara para ahli menyarankan jumlah yang berbeda, mungkin aman untuk mengatakan bahwa setiap tempayan menampung beberapa galon. Apakah lebih sulit untuk mengubah satu galon atau 100 galon air menjadi anggur, saya tidak tahu. Apa yang telah mengubah hidup saya adalah gagasan bahwa Yesus memiliki kuasa untuk mengubah satu hal menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Dia tidak hanya membuat air dengan rasa anggur; Dia mengambil air, dengan struktur molekulnya yang sederhana, dan mengubahnya menjadi anggur, campuran kompleks dari ratusan senyawa kimia. Jika Dia dapat melakukan itu, maka Dia dapat mengubah tantangan saya menjadi berkat—bukan hanya menambahkan prospek yang penuh harapan pada badai tetapi benar-benar mengubah substansi pencobaan menjadi sesuatu yang memberkati saya lihat Roma 828; 2 Nefi 22. Dan jika Dia dapat melakukannya dengan satu tantangan, Dia dapat melakukannya dengan semuanya. Maka ketika kehidupan tampak penuh dengan pencobaan, ingatlah bahwa Dia dapat mengubah air menjadi anggur. Dia dapat mengaruniakan perhiasan kepala ganti abu lihat Yesaya 613. Dia dapat mengambil kejahatan dan mengubahnya menjadi kebaikan lihat Kejadian 5020. Dia dapat mengubah kesalahan saya menjadi pertumbuhan dan mengambil dosa-dosa saya serta mengubahnya dari penghukuman menjadi Dan, bagi saya, realisasi itu adalah yang paling signifikan dari semuanya. Mukjizat ini yang pernah saya abaikan telah mengajari saya bahwa melalui kuasa-Nya, jika kita memiliki iman untuk melakukan apa yang Dia minta, Dia dapat mengubah kita dari apa adanya kita menjadi apa yang kita dapat menjadi—seperti Dia. Ayat bacaan Yohanes 29 ===================== “Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya” Hari ini ketika berjalan-jalan di supermarket, saya melihat sederetan botol-botol minuman dengan berbagai merek, kemasan dan rasa. Semuanya tentu mengandung air, tetapi harganya beragam. Sesama air mineral saja bisa berbeda harga. Ada yang karena mereknya, ada pula yang ditambahi oksigen sehingga dikatakan akan lebih sehat dan segar untuk diminum dibandingkan air biasa. Cukup lama saya mengamat-amati berbagai jenis minuman ini, sehingga saya pun berpikir, jika air mineral saja sudah lebih mahal dibanding air putih biasa, bagaimana jika dibandingkan dengan anggur? Tentu harganya akan jauh lebih tinggi. Sama-sama air, sama-sama minuman, tapi jauh berbeda nilainya. Saya pun teringat ketika Yesus mengadakan mukjizat merubah air menjadi anggur di sebuah pesta perkawinan yang tercatat dalam Alkitab. Melanjutkan renungan mengenai orang benar kemarin, hari ini saya mengangkat kisah mengenai kisah kehadiran Yesus di pesta perkawinan di Kana yang terdapat dalam Yohanes 21-11. Ada banyak implikasi yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah ini, tapi hari ini saya secara khusus hari ini saya ingin fokus kepada mukjizat yang dilakukan Yesus dengan mengubah air menjadi anggur. Dikisahkan pada waktu itu Yesus dan murid-muridNya hadir disana, begitu pula ibu Yesus. Mungkin tamu yang hadir membludak jauh dari yang diperkirakan, sehingga mereka kehabisan anggur. Mari kita lihat situasi disana. “Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.” Yohanes 26. Dua-tiga buyung itu kira-kira setara dengan 20-30 galon, kira-kira 100 liter bisa ditampung dalam masing-masing tempayan. “Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh.” ay 7. Setelah itu, Yesus meminta mereka untuk menyendok air itu dan membawanya kepada pemimpin pesta. ay 8. Lalu inilah yang terjadi. “Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya”. ay 9. Si pemimpin pesta pun terheran-heran. Segera ia memanggil mempelai pria, dan berkata “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.”ay 10. Ini ringkasan dari mukjizat awal sebagai permulaan dari pelayanan Kristus secara langsung di dunia. Yesus mengubah air menjadi anggur. Bukan sekedar anggur biasa atau ala kadarnya, tapi jelas dikatakan anggur yang baik. ay 10. Anggur yang baik ini kemudian dinikmati dan menjadi berkat bagi banyak orang yang hadir disana. Akan sangat jauh berbeda tentunya jika yang dihidangkan hanya air putih biasa. Dari kisah terkenal ini kita bisa mengambil pelajaran penting. Seperti apakah kita saat ini? Apakah kita masih seperti air biasa atau seperti air yang sedang dalam proses pemurnian? Seperti halnya Yesus sanggup mengubah air menjadi anggur, Dia sanggup mengubah kita yang “biasa-biasa” saja untuk menjadi anggur yang baik yang bisa memberkati, membawa sukacita bagi banyak orang. Bagaimana caranya? Dari kisah di atas kita bisa melihat bahwa awalnya tempayan-tempayan itu disuruh Yesus sendiri untuk diisi dengan air. Ini berbicara mengenai pentingnya kita mengisi diri kita secara teratur dengan firman Tuhan yang hidup. Firman Tuhan sungguh penting dalam hidup kita, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Ibrani 412. Dan jangan lupa sebelum air diperintahkan Yesus untuk masuk ke tempayan, ada sebuah pesan penting yang disampaikan ibu Yesus. “Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!“ ay 5. Dari sini kita bisa melihat bahwa ketaatan pada Yesus menjadi kunci utama pula. Jadi secara singkat kita bisa melihat bahwa jika kita manusia berada di tangan Yesus, taat kepadaNya dan kemudian mengisi diri kita dengan air yang adalah firman Tuhan, maka kita bisa diubahkan untuk menjadi anggur atau berkat bagi orang lain. Menjalani sebuah proses pengubahan seringkali tidak menyenangkan. Ada kalanya kita harus mengalami berbagai hal berat dan menyakitkan ketika sedang dibentuk. Tetapi kemudian setelahnya kita bisa diubahkan Tuhan menjadi anggur berkualitas yang bisa memberkati banyak orang. Hidup kita yang biasa-biasa saja bisa diubahkan dan dipakai Tuhan agar bermakna bagi orang lain. Untuk itu kita harus rela ditegur, dikoreksi, diajar atau bahkan dihajar apabila perlu. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, Tuhan bisa pakai itu semua untuk menjadi berkat. Yang dibutuhkan adalah kerelaan kita untuk diubahkan dan dipakai agar menjadi berkat. Ketaatan kita secara penuh, melakukan apa yang Dia perintahkan, lalu mengisi diri kita dengan firman Allah, itulah dasar yang akan mengarahkan kita menjadi anggur berkualitas. Seperti air jenis apakah kita saat ini? Mari kita sama-sama terus bertumbuh hingga bisa menjadi anggur baik yang memberkati orang banyak. Jadilah anggur yang baik yang membawa sukacita dan berkat bagi sesama Follow us on twitter Yesus Mengubah Air Menjadi Anggur Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya “Mau apakah engkau dari pada-Ku ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu, dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. Amin. - Simak Cerita Alkitab hari ini yang akan menceritakan kisah Mukjizat Yesus mengubah air menjadi anggur. Mukjizat Yesus ini bermula dari ibu Yesus, Yesus dan murid-muridnya menghadiri pesta pernikahan. Pesta pernikahan itu diadakan di Kana, Galilea. Baca juga Cerita Alkitab, Yosua dan Bangsa Israel Runtuhkan Tembok Yerikho dengan Nyanyian Baca juga Cerita Alkitab, Kisah Gadis-gadis yang Bijaksana dan Gadis-gadis yang Bodoh Saat pesta pernikahan tengah berlangsung, sang tuan pesta kekurangan anggur. Hal ini lantas diketahui oleh ibu Yesus. Ibu Yesus berinisiatif memberi tahu Yesus. Ibu Yesus berkata kepada Yesus ”Mereka kehabisan anggur.” Tetapi jawaban Yesus tak seperti apa yang menjadi kemauan Ibu Yesus. Yesus menjawab kepada ibunya ”Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Setelah Yesus menjawab hal itu, ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan ”Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Ibu Yesus mengambil langkah iman, dia berkeyakinan bahwa Yesus akan membuat sesuatu. Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu ”Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Baca juga Cerita Alkitab, Kisah Kesepuluh Orang Kusta, Hanya Satu Orang yang Tahu Berterima Kasih Yesus mengubah air menjadi anggur dalam pesta pernikahan di Kana Lalu kata Yesus kepada mereka ”Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya.

kisah yesus mengubah air menjadi anggur